Basmallah
EduMuslim.org
Pilih: Indonesian  English  
Berlangganan Edumuslim
Wallpaper
EduMuslim Publish
EduMuslim Melangkah Mengenggam Peradaban
copy paste kode dibawah ini untuk memasang link edumuslim.org
LeftHit Indonesia
Add to Google
Add to My Yahoo!
feed atom EduMuslim
feed RSS 0.91 EduMuslim
feed RSS 1.0 EduMuslim
feed RSS 2.0 EduMuslim
feed OPML EduMuslim


Organisasi / Referensi
Home » Pendidikan-Anak » Lihat Artikel

Saat Ayah Tak Disisi

17-09-2009 21:39:57 WIB Oleh : Diyah Wulandari
Semalam, Pak Harun datang berpamitan. Bu Harun pun menemaninya. Mereka datang ke rumah-rumah kami para tetangganya. Ke Palembang, katanya. Bu Harun terlihat mengusap matanya. Menangisi kepergian suaminya.

Setahu saya, selama ini, 4 tahun ini, Pak Harun selalu berada bersama keluarga kecilnya. Beliau, istrinya, dan dua anak laki-laki yang sekarang ini duduk di kelas satu dan dua sekolah dasar. Jadi sangatlah wajar bila kepindahan suaminya membuat Bu Harun sedih.

Pak Harun bekerja di sebuah perusahaan angkutan publik. Kapal yang setiap kali menyeberangkan para penumpang di selat Madura. Ya. Ini memang sebuah dampak dari dibangun dan diresmikannya jembatan Suramadu.

Kapal-kapal sekarang ini kerap kali sepi penumpang. Bila biasanya kami naik kapal harus menunggu seperempat jam sampai kapal berangkat, kini bisa sampai dua jam bahkan lebih untuk berangkat.

Sebuah kebijakan yang harus diambil perusahaan kapal-kapal itu agar mereka tak jatuh bangkrut. Perampingan karyawan pun dilakukan. Entah berapa banyak karyawan yang harus pergi meninggalkan keluarganya di Kamal dan sekitarnya.

Apa yang akan terjadi dengan Bu Harun? Dan Ujang, juga kakaknya Gandi? Toko kelontongnya mungkin akan terus buka. Semoga. Tapi bagaimana dengan perkembangan anak-anak? Anak tanpa figur seorang ayah di sampingnya tentu akan berbeda perkembangannya, bukan?

Keseharian Ujang dan Gandi yang penuh dengan bentakan tak sabar dari kedua orang tuanya sudah cukup membuat kami para tetangga menghela napas. Salah tingkah, mau mengingatkan, tapi kok…rasanya mereka kurang welcome.

Padahal sang ibu pernah menuntut ilmu di PGTK. Tapi tentu kurang praktek kalau ilmu yang didapat hanya berhenti di kognitif saja. Hanya sebagai data saja.

Apalagi sekarang saat sang ayah pergi jauh. Lebaran pun tak pulang. Mungkin untuk menghemat ongkos. Berapa lah gaji karyawan bawahan dari perusahaan kapal? Mungkin setahun sekali baru akan pulang.

Kalau perginya lama, apakah Bu Harun akan semakin sering membentak anak-anaknya karena habis kesabarannya -apalagi tak ada partner yang membantunya? Padahal dengan cara yang selama ini beliau terapkan pada kedua bersaudara itu, sudah nampak keras watak Ujang dan Gandi terbentuk olehnya. Nampak pula dari cara mereka bergaul dengan anak-anak lain di komplek: keras dan ringan tangan.

Walau pun dengan adanya Pak Harun watak mereka juga tetap keras, tapi tetap saja, keberadaan seorang ayah tentu akan lebih baik bagi mereka. Apalagi bagi anak laki-laki, ayah adalah sosok yang dijadikan panutan. Menjadi kebanggaan. Sekeras apapun wataknya. Sekasar apapun perlakuannya.

Menjadi penting bagi kita, orang tua, untuk selalu berpikir dua kali (atau lebih) dalam berbicara dan bertindak pada anak-anak kita. Karena begitu mudah mereka meniru kita. Mereka bagai mesin fotokopi kita. Kalau kita ingin tahu watak sebenarnya dari sepasang orang tua, kita bisa melihatnya dengan jelas pada anak-anaknya.

Anak yang berani dan mudah berkomentar, biasanya menunjukkan tipe orang tuanya yang demokratis. Anak yang suka memanfaatkan temannya, bisa jadi dia belajar skill yang kurang positif itu dari orang tuanya. Anak yang suka bergosip, bisa dipastikan, orang tuanya pun suka sekali bergosip ria. Anak yang suka menyanyikan lagu “Tak gendong”? Belum tentu orang tuanya suka lagu itu. Bisa jadi dia mendengar dari pengamen yang sering lewat depan rumahnya.

Ya. Memang semua itu bukan parameter yang pasti. Tapi kadang banyak terjadi. Jadi, menjadi orang tua memang tidak mudah. Sayangnya belum ada sekolah untuk menjadi orang tua. Kalaupun ada, mungkin masih mahal dan bentuknya masih eksklusif dalam pelatihan-pelatihan yang pesertanya dari kalangan yang memang sadar pendidikan saja. Orang-orang yang sadar pentingnya ilmu, tapi masih sering juga lepas kontrol emosinya dalam mendidik anak. Apalagi orang-orang seperti Pak dan Bu Harun ini.

Ah, semoga Bu Harun bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi Ujang dan Gandi, walaupun Pak Harun tak disisinya sementara ini. Semoga Pak Harun pun bisa lebih menyayangi keluarganya, karena biasanya orang baru bisa merasakan hal yang berharga saat mereka jauh. Sedangkan saat dekat justru tak merasa sesuatu itu berharga.

Mungkin skenario Allah untuk keluarga Harun ini akan memberikan kebaikan bagi mereka. Amin.
 

Tentang Penulis:
 
Nama: Diyah Wulandari Husni
TTL: Bojonegoro, 16 Sept 1978
Alamat: Jl. Cendana 2 BB-10 Banyuajuh Kamal, Bangkalan, Madura, Jatim
Telp: 081357382502

Dilihat: 1162 kali    Jumlah Kata: 674
Melihat Semua Artikel Penulis
Basmallah