Berlangganan Edumuslim
Wallpaper
EduMuslim Publish
Organisasi / Referensi
Home » Dunia-Islam » Lihat Artikel
Makar 2 Syawal
15-10-2009 22:53:35 WIB Oleh : Akmal Sjafril
Menanggapi kisah kedatangan utusan yang menuntut penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, Mohammad Natsir menulis sebagai berikut:Utusan tersebut tidak untuk mengadakan diskusi tentang persoalannya. Hanya menyampaikan satu peringatan. Titik! Tidak perlu bicara lagi. Terserah apakah pesan itu diterima atau tidak. Asal tahu apa konsekuensinya. Itu berupa ultimatum. Ultimatum, bukan saja terhadap warga negara yang beragama Islam di Indonesia. Tetapi pada hakekatnya terhadap Republik Indonesia sendiri yang baru berumur 24 jam itu. Hari 17 Agustus adalah Hari Proklamasi, hari raya kita. Hari raya 18 Agustus adalah hari ultimatum dari umat Kristen Indonesia bagian Timur. Kedua-dua peristiwa itu adalah peristiwa sejarah. Kalau yang pertama kita rayakan, yang kedua sekurang-kurangnya jangan dilupakan. Menyambut hari Proklamasi 17 Agustus kita bertahmied. Menyambut hari besoknya, 18 Agustus, kita beristighfar. Insyaallah umat Islam tidak akan lupa.
'Ultimatum 18 Agustus' konon disampaikan pada Bung Hatta, namun hingga Prof. Kasman Singodimedjo mengisahkan lobi-lobi politik pada tanggal 18 Agustus itu dengan gamblang. Menurutnya, yang membuat tuntutan itu memang umat Kristen, dan mereka memang sangat pintar memilih momen. Pada saat itu RI baru diproklamasikan, tapi belum ada undang-undang dasar dan pemerintahannya. Sementara itu, Jepang masih bercokol di tanah air, sedangkan sekutu sudah siap-siap menyerbu Indonesia lagi. Dalam kondisi demikian, umat Islam paham bahwa RI harus segera berdiri tegar, atau hilanglah kesempatan itu. Demi Indonesia, umat Islam pun mau mengalah, dan tujuh kata itu pun dihapuskan. Inilah pengorbanan besar umat Islam bagi Indonesia.
Tidak banyak yang tahu bahwa umat Islam baru saja mengalami makar yang cukup memprihatinkan di Hari Raya Idul Fitri 1430 H yang lalu. Seperti biasa, Idul Fitri diwarnai oleh tradisi mudik, menyambung tali silaturrahim, menebar kebahagiaan, dan seterusnya. Banyak yang bilang Idul Fitri adalah Hari Kemenangan. Sebab, sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw. yang termasyhur, barangsiapa yang melaksanakan shaum di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan, maka dosa-dosanya akan diampuni semuanya. Hadits ini kemudian disimplifikasi (mungkin oversimplifikasi) lagi, seolah-olah semua yang melaksanakan shaum akan diampuni dosa-dosanya, sehingga pada tanggal 1 Syawal mereka akan kembali kepada keadaannya seperti bayi, alias tanpa dosa.
Faktanya, Idul Fitri belum tentu tepat untuk disebut sebagai Hari Kemenangan. Masih segar dalam ingatan bagaimana umat Muslim di Maluku dibantai dengan sadis, justru di Hari Raya Idul Fitri. Mungkin karena semua sudah merasa sebagai pemenang, lantas menjadi lengah. Lengah pada kenyataan bahwa amal-amalnya di bulan Ramadhan masih sangat minim, juga lengah pada permusuhan dari orang-orang yang tidak menyukai agama Allah lestari.
Peristiwa 18 Agustus 1945 juga terjadi pada bulan Ramadhan, di tengah-tengah kondisi suka cita karena akan menyambut Idul Fitri, ditambah lagi euforia karena proklamasi kemerdekaan RI sehari sebelumnya. Enam puluh empat tahun setelah penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, makar kembali terjadi pada umat Islam, di tengah gegap-gempitanya menyambut Idul Fitri. Uniknya, yang melakukan makar kali ini adalah televisi.
Barangkali karena sudah “dikekang” selama sebulan penuh, televisi langsung mempertunjukkan kebuasannya sebagai sarana promosi syahwat selepas Ramadhan. Jika pagi hari tanggal 20 September 2009 kita bertakbir dan bertahmid, maka pada malam harinya (2 Syawal 1430 H) televisi menyerang umat Islam dengan segala cara.
Perempuan Berkalung Sorban, film 'Islam' yang menggunakan logika BibelFilm Perempuan Berkalung Sorban (PBS) dipilih sebagai penyerang pertama. Film ini sebenarnya lebih layak untuk dikategorikan sebagai “film non-Islam”, atau bahkan “film Kristen”. Disebut “film non-Islam” karena ia tidak menyampaikan imej yang benar tentang Islam, bahkan nilai-nilai yang ditawarkannya jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Tepat juga kalau disebut “film Kristen”, karena meskipun latar belakang ceritanya bernuansa Islam, namun kerangka pemikirannya murni Kristen. Salah satu adegan dalam film PBS menunjukkan bahwa sang tokoh akan dirajam, tapi batal karena ada orang yang mengingatkan bahwa yang boleh merajam hanya yang tidak punya dosa. Logika ini bukan berasal dari khazanah pemikiran Islam yang mewajibkan keadilan hukum bagi siapa saja, melainkan dari kisah pertemuan antara Yesus dan Maria Magdalena. Kisah ini bisa ditemukan dengan mudah di internet.
Ketika malam sedikit larut, muncul film lain yang dibintangi oleh Raffi Ahmad dan Indah Kalalo. Film ini begitu seronok dan buruk sehingga rasanya tak ada alasan untuk mencari tahu judulnya, kecuali untuk keperluan akademis. Begitu banyak adegan-adegan yang nyerempet urusan seputar seks, ditambah gaya berpakaian aktris-aktrisnya yang jauh dari sopan. Seperti biasa, film semacam ini tidak mementingkan kedalaman plot atau akting para aktornya, apalagi nilai moral. Inilah film yang tepat untuk dinikmati oleh mereka yang shaum Ramadhannya tak berbekas sama sekali, lenyap oleh aroma opor ayam dan "mimpi-mimpi kemenangan”.
Lebih larut lagi, film seronok lainnya muncul. Judulnya: Suster Ngesot. Selain mengandalkan Nia Ramadhani dan Donita yang mau berpakaian minim sepanjang durasi film, Suster Ngesot juga menawarkan pemikiran sesat yang sudah sejak lama dianut oleh sebagian penduduk Indonesia; seputar dendam yang membuat ruh orang yang sudah meninggal gentayangan kesana-kemari dan membunuhi orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Film ini tidak mengajarkan apa pun kecuali kemesuman dan takhayul.
Sebagai mayoritas, umat Islam punya hak-hak tertentu yang wajib dihormati oleh yang lain. Di Bali, orang tak boleh sembarangan keluar rumah di Hari Raya Nyepi. Aturan ini mengikat semua orang, baik Hindu maupun Non-Hindu. Mengapa umat Islam begitu takut untuk menyatakan tuntutannya? Mengapa makar demi makar berlalu begitu saja, luput dari perhatian masyarakat, pers, hukum dan ulama? Kalau untuk kepentingan bangsa, umat Islam akan jadi yang pertama untuk berkorban. Tapi apa perlunya mengalah dengan menggadaikan moralitas bangsa?
Pada tanggal 1 Syawal 1430 H, kita bertakbir dan bertahmid. Sehari sesudahnya kita beristighfar. Semoga umat Islam yang memahami agamanya sendiri dengan baik bisa mendominasi pertelevisian tanah air di kemudian hari, dan semoga Allah membalas mereka yang berbuat makar terhadap Hari Raya Idul Fitri. Aamiin...
wassalaamu’alaikum wr. wb.
Dilihat: 982 kali Jumlah Kata: 930
Melihat Semua Artikel Penulis
Jadwal Sholat Hari Ini
| Shubuh | 04:38 |
| Terbit | 05:48 |
| Dhuhur | 11:48 |
| Ashr | 15:05 |
| Maghrib | 17:48 |
| Isya' | 18:58 |
| Untuk Kota : Bandung untuk selengkapnya... | |
Kolom Artikel
- Bengkel Tekno
- Cantik Muslimah
- Dunia Islam
- Dunia Pangan
- Gerbang Cahaya
- Info Palestina
- Islam Dan Sains
- Keluarga Idaman
- Kisah Inspiratif
- Lentera Kehidupan
- Motivasi Islami
- Pendidikan Anak
- Remaja Prestatif
- Resensi Buku
- Sajak Islami
Resensi
Statistik Web



.gif)










